ANTARA TOGA DAN PERJALANAN CITA MENUJU TIMUR ASIA

Rangkaian mawar menebarkan wangi di sudut kamar. Perlahan mengering dan berwarna coklat menghiasi bejana kaca. Waktu memakan habis kesegarannya, tampak layu dan tidak lagi menebarkan harum. Itulah pemandanganku saat mentari membangunkan kenangan yang tertidur dengan pulas. Foto-foto di atas meja berdampingan dengan rangkaian bunga kini selalu memanggil memori yang singgah dalam benak. Senyum indah menggambarkan kebahagiaan atas kebersamaanku dan teman-temanku yang terlukis dalam lembar foto.

Kring...kriingg...! Jam weker berdering, tanda aku harus bergegas menjalani hari demi mewujudkan mimpi. Nasi uduk tersedia seolah menyemangati pagiku dalam menjalani hari yang pastinya akan begitu sibuk. Kusapa gelas-gelas tabung reaksi dalam laboratorium dan segala alat-alat yang kupegang dengan sarung tangan, tidak lupa masker untuk melindungi paru-paruku dari bahan-bahan kimia yang selalu menjadi santapanku di dunia perkuliahan. Praktikum demi praktikum dilalui dalam ruangan yang riuh dengan hiruk-pikuk teman-temanku yang sibuk dengan cairan dalam tabung reaksi. Tidak terasa, terik mentari kian menerangi gedung-gedung kampus. Waktu jam makan siang pun sering terlewati dengan lembaran laporan praktikum yang siap memakan waktu hingga surya kembali terbenam. Ya, lembayung mengantar senja hingga menyibak tirai malam, lelah dan segala pikiran terkuras habis di kampus, jurusan ku, Kimia Murni. Namanya saja murni, bayangkan betapa murninya setiap hari berteman dengan laboratorium hingga sore menyambut malam.

Malam kini hadir, gelap gulita lorong-lorong di gedung kampus semakin terasa. Satu persatu parkiran mulai sepi tanda mahasiswa kembali pulang. Namun tidak denganku, kuhabiskan malam-malamku dengan bernyanyi, melantunkan nada-nada membentuk melodi yang indah dari suara-suara penyanyi mahasiswa. Aku sangat senang bernyanyi, seolah menutupi keletihanku dari praktikum dan penelitian di laboratorium. Nada-nada indah mengalun merdu mengeluarkan hormon endorfin dalam tubuhku. Aku dan teman-temanku saling saut-menyaut dalam dentuman irama yang begitu harmoni. Berlatih menjadi paduan suara yang memiliki visi mengharumkan nama kampus. Telepon genggamku berdering tanda pesan masuk alias whatsapp dari teman-temanku yang bertanya tentang laporan praktikum tadi di sela-sela latihan. “Rin, udah bikin laporan buat besok?” Chat masuk dari temanku seakan mengingatkanku bahwa ada tugas yang harus aku selesaikan. “Belum, masih latihan nih.” Balasku. “Ya ampun Rin, gak capek apa? Yaudah semangat ya!”. Kata semangat yang selalu terlontar dari teman-teman sejurusanku. Jawabannya, pasti lelah, sangat lelah. Waktu kini menunjukkan pukul 22.00 WIB. Latihan pun diselesaikan, aku harus bergegas pulang ke rumah dengan motorku melalui heningnya malam dengan lampu jalanan yang menerangi serta diselimuti dinginnya angin. Berharap kasur empuk menyambutku dengan hangat, namun tidak. Tugas dan laporan penelitianku menunggu lebih dahulu. Aku harus bergadang dan bermalam hingga jam 03.00 WIB. Mata terasa berat, pikiran mulai lelah dan fisik yang rindu akan pelukan kasur.

Pagi yang cerah mewarnai awal kegiatanku, sudah cukup lama aku menyandang status mahasiswa. Timbullah pertanyaan paling umum yang selalu membayang-bayangiku “Kapan lulus?” Sebelas semester bukanlah waktu yang sebentar, begitu lama. Namun siapa yang tahu apa yang telah dilalui olehku. Mungkin di sekitarku melihatku hanya bernyanyi dan bernyanyi. Karena itu yang terlihat. Aku tetap berusaha dan memecahkan masalah dalam skripsiku yang tidak mudah. Menemukan senyawa dalam ekstrak daun Cemara Sumatra. Berulang kali mencari formula yang tepat dalam larutan-larutan demi sebuah senyawa yang terdapat dalam ekstrak daun dari ribuan senyawa. Murni, benar-benar harus murni hanya satu senyawa yang harus dicari. Berguru dengan kakak tingkat, membuka youtube, membaca jurnal internasional, membaca buku-buku pendukung terkait kimia bahan alam sudah menjadi keseharianku demi terselesaikannya sebuah syarat untuk memakai toga.

Waktu berlari terus tanpa henti, begitu cepat sangat cepat. Ruang aula menjadi tempat latihan kini kembali memanggilku, kali ini aku harus audisi, audisi untuk kompetisi paduan suara internasional yang telah diimpikan sejak lama. Malta, tujuan dari kompetisi dari organisasi paduan suara di kampusku yang telah diimpikan sejak 2 tahun lalu. Kini audisi pun tiba, “La sol fa fa sol la si do..do..” Sepenggal nada yang kubunyikan dalam audisi. Keringat dingin dan gemetar membunyikannya, rasa deg-degan melanda diri ini. Bagaimana tidak, sudah 2 tahun aku tidak bisa ikut kompetisi internasional. Pertama di Busan Choral Festival and Competition 2016, aku gagal dalam audisi. Lalu kompetisi di Srilanka 2017 juga aku tidak ikut serta, karena memang saat itu aku memutuskan tidak ikut audisi. Inilah kesempatan emas dan kesempatan terakhir dalam hidupku untuk audisi, karena aku harus segera lulus, namun aku juga ingin mengikuti kompetisi paduan suara internasional untuk mengharumkan nama kampusku tercinta.

Hari berganti, terompet-terompet memenuhi pinggir jalan, tak kalah kembang api menghiasi setiap jalananan. Tahun 2018 segera berakhir dalam hitungan jam. Jarum jam berjalan hingga mengantarkan pada malam hari. Langit-langit diwarnai gemerlap kembang api menyambut tahun 2019. Segala harap di tahun ini semoga dapat terwujud. Siang ini cukup terik, kali ini aku menghabiskan waktu di rumah bersama mama. Makan siang dengan lauk favoritku nasi padang, duduk bersama di depan televisi dan berbincang di lantai yang seolah menyejukkan udara di siang hari yang terik ini. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Segera aku mengecek dan melihat isi whatsapp yang memenuhi layar. Pesan dari temanku bernama Sudrajat “Alhamdulillahirabbil’alaamiin, berkat usaha dan doa teman-teman selama ini, teman-teman berhasil lolos seleksi audisi PSM UIN Jakarta Goes to The 24th Malta International Choir Festival 2019 dan menjadi squad yang akan mewakili PSM UIN Jakarta...” Seketika mataku berkaca-kaca, tak mampu lidah ini berkata-kata. Air mata mewakili segala perasaanku seakan tumpah membasahi pipi yang kering di siang hari. Alhamdulillah, aku lolos audisi. Aku sampaikan pesan ini kepada mama, mama yang turut berkaca-kaca dan memelukku atas latihanku yang tak terhitung. Malam menjadi saksi setiap aku selesai dari latihan. Namun, ini adalah awal menuju kompetisi internasional, lawan yang pasti tangguh dari penjuru dunia.

Berlatih dan berlatih adalah cara untuk terus membuktikan dan menampilkan yang terbaik. Lomba internasional, bukan hanya sekedar berlatih untuk menjadi yang terbaik, namun juga perlu biaya. Ya, biaya ratusan juta rupiah sudah pasti harus dikumpulkan. Menjajakan keripik, istilah danus (dana usaha) menjadi familiar bagi mahasiswa untuk mengumpulkan dana. Air mineral, gorengan, sosis, makanan yang dapat dijual mengelilingi kampus demi mengumpulkan rupiah demi rupiah. Tak sampai di situ, aku dan teman-teman menjual suara di hari Minggu pagi, menuju car free day dengan menyanyi. Membawakan lagu Anoman Obong dan Tari Pasambahan karya musisi hebat Afdhal Dzikri serta 1 lagu lainnya berjudul Bolelebo yang juga aransemen temanku yang hebat yaitu Armix dan Sinatra.

Senja indah menutup hari yang cerah. Malam selalu akrab berteman, melukis semua perjuangan dalam balutan nada. Pagiku mengiringi perjuangan dalam menulis tugas akhirku. Tak terasa waktu begitu kencang berlari, hingga sampai dekat kompetisi, skripsiku? Belum juga rampung. Siapa sangka, Malta sebuah negara di pulau kecil sebelah selatan semenanjung Italia, lebih tepatnya di sebelah pulau Sisilia sekitar Laut Mediterania Benua Eropa yang menjadi tujuan utama kompetisi, kini kandas. Harus menutup jauh-jauh mimpi menuju Malta, karena keterbatasan biaya. Segala upaya maksimal dilakukan, mencari sponsor dan danus yang selalu ditekankan. Apalah daya, takdir berkata lain. Usaha tetap dilakukan dengan mencari kompetisi internasional di tempat lain. Menjelajahi situs web, melihat dan menyesuaikan dengan waktu dan biaya. Tidak menyerah dan yakin bahwa pasti ada kompetisi internasional yang tepat dan dapat diikuti. Berhari-hari mencari, hingga akhirnya sampai pada sebuah negara yang tidak pernah kami duga sebelumnya. Pencarian ini adalah rekomendasi dari temanku Bayhaqi yang sudah melihat dan membaca ketentuan bahkan dari segi biaya. Sebuah negara perjanjian antara Portugal dengan Tiongkok pada 20 Desember 1999, wilayah di pesisir selatan Republik Rakyat Tiongkok, yaa... itulah negara Macau.

Macau International Choir Festival and Competition 2019 menjadi destinasi kompetisi kami. Tak pernah dibayangkan sebelumnya kami akan kompetisi di sini. November telah datang, bulan yang dinantikan kini telah hadir. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku harus seminar hasil untuk menuju sarjana. Perjalananku menuju sarjana masih terdapat 2 langkah lagi, seminar hasil dan sidang. November begitu cepat datang, sebelum aku berangkat kompetisi aku harus segera seminar hasil. Mondar-mandir ruang dosen, menunggu dosen demi sebuah tanda tangan persetujuan seminar. Pagi, siang hingga sore kutunggu depan pintu dosen, duduk dalam kesendirian menanti kehadiran dosen yang kunanti. Coretan tinta memenuhi lembar skripsiku, revisi dan revisi sudah pasti menjadi makanan sehari-hari mahasiswa tingkat akhir sepertiku. Aku tidak akan menyerah, semua demi mama yang berjuang sendiri membiayaiku setelah April 2018 bapak telah mendahului kami, berpulang ke rahmatullah. Usahaku tidak sebanding dengan jerih payah dan keringat mama demi aku. Alhamdulillah, Tuhan mengizinkan aku seminar seminggu sebelum aku berangkat ke Macau. Revisi semakin banyak menuju sidang, tapi aku harus kompetisi minggu depan. Sembilan hari di negara orang bukanlah waktu yang sebentar untuk meninggalkan skripsiku di tahap terakhir menuju sidang. Tapi kompetisi internasional ini juga menjadi salah satu impianku. Aku merelakan sidangku demi persiapan kompetisi yang sudah seminggu lagi di depan mata.

Angin berhembus mesra, menjalar ke tubuh ini dengan belaiannya. Malam lagi-lagi bersaksi atas pengantarannya menuju bandara. Tibalah saat ini, hari dimana aku dan squad paduan suaraku menuju Timur Asia, Macau. Sesampainya di kampus, kami berdoa bersama memohon pada Sang Pemilik Semesta akan perlindungan, keselamatan dan hasil yang terbaik hingga kembali lagi di Tanah Ibu Pertiwi. Berangkatlah kami menuju bandara, inilah kali pertamaku naik pesawat. Yaa... jantung berdegup kencang, kini aku berada dekat awan, melihat awan berkumpul melalui kaca pesawat. Tak terasa 6 jam perjalanan sampai menuju Macau. Inilah Macau, kamipun berkompetisi, melihat saingan yang luar biasa, Macau, Filipina, Srilanka turut serta memeriahkan kompetisi dan bersaing bersama kami (Indonesia). Ruangan menggema disertai dinginnya AC bercampur dinginnya rasa grogi berselimut menjadi satu. Pertama kali aku ikut kompetisi, rasanya benar-benar menggigil, seakan kaki tidak nampak di atas panggung yang begitu mewah dilengkapi meja juri di depan mata. Kami berdoa agar menampilkan yang terbaik yang kami persembahkan. 15 menit begitu terasa syahdu dengan balutan rasa menyanyi dengan hati, tepuk tangan memecahkan kesyahduan penampilan kami dengan dramatis membawakan cerita Ramayana yang berasal dari India yang digubah oleh Walmiki dalam khazanah sastra Jawa berhasil menghipnotis para juri yang sangat menyukai penampilan kami.

Pengumuman adalah momen paling ditunggu. Segala doa dan usaha telah kami kerahkan. Kini takdir Tuhan yang akan memberikan jawaban. Atas segala rahmat dan rida-Nya, Paduan Suara Mahasiswa UIN Jakarta disebut dalam kategori Gold Prize, sujud syukur atas karunia dan anugerah yang Tuhan berikan dengan score 88,64. Tangis kami pecah, air mata berlinang membasahi pipi, saling berpelukan seakan memecah kebahagiaan dan haru atas segala perjuangan yang telah dilalui. Semua karena izin Tuhan yang telah mendengar doa-doa yang senantiasa selalu dilangitkan. Lelah dan peluh terbayarkan, setelah kompetisi kami menyusuri setiap sudut kota di Macau. The Ruin St. Paulo menjadi salah satu tujuan perjalanan kami yang merupakan bagian depan bangunan yang tersisa dari Gereja Mater Dei. Lelah melewati tangga dan jalanan yang menanjak seolah terlupakan dengan indahnya arsitektur bangunan yang unik dilengkapi pahatan patung serta bunga-bunga berwarna-warni di sekelilingnya.

Indonesia, tanah airku, aku datang membawa kabar bahagia, aku datang dengan rasa bangga. Selamat datang kembali bumiku Indonesia. Satu impian telah diraih, tidak hanya sampai di sini, masih ada kewajibanku sebagai mahasiswa tingkat akhir. Lulus, masih ada satu tahapku untuk meraih gelar sarjana dan memakai toga. Seminggu setelah kembali dari Macau, aku langsung mengurus revisi dan mengejar sidang. Tuhan punya rencana, ya... aku sidang. Inilah tahap terakhir menuju sarjana, atas doa ibu yang tak pernah putus. Aku sidang di saat injury time. Hari terakhir sidang di tahun 2019 tepatnya 26 November, karena setelah itu, fakultasku harus segera tutup buku di akhir tahun. Alhamdulillah, di penutupan dan penghujung tahun, Tuhan mengizinkan aku sidang. Inilah jawaban dari Tuhan selama aku berjuang di masa-masa perkuliahan demi meraih segala impian yang pernah kutulis dalam sebuah kertas. Tahun 2019, menjawab segala doa-doa yang selalu kutitipkan pada tanah hingga sampai ke langit-Nya. Rencana Tuhan selalu indah, percaya dan selalu yakin pada-Nya adalah kunci dalam memotivasi diri saat diri ini lelah. Tetap berusaha dan terus berdoa mengetuk pintu langit-Nya, pastikan kita masih tetap di sana hingga Tuhan membukakannya untuk kita. Rangkaian mawar yang layu, foto-foto dengan senyum merekah nan indah menghiasi meja di sudut kamarku, pemberian dari sahabat-sahabatku tercinta saat wisuda, menyimpan sejuta kenangan yang tidak akan pernah terhapus oleh waktu. Gerbang kehidupan kini telah terbuka, selamat datang di dunia yang sesungguhnya. Mimpiku? Tidak hanya sampai di sini, selamat berjuang kembali.


Comments