Hingga Mendebu

Denting piano mengalun merdu

Diiringi suara bermelodikan syahdu

Saat hening malam setia menemani

Ukiran kebahagiaan tampak jelas dalam lekuk bibir

Indah memanggil kembali waktu yang lalu

Dalam lembar foto di balik layar digital

Satu-persatu menuai kenangan

Mengantarkan ke ruang rindu

 

Berlari-lari dalam ingatan

Saat tubuh kecil ini dalam pelukan kehangatan

Kaki kecil lincah menyusuri jalan

Setapak demi setapak

Menebar keceriaan dalam gelak tawa

Dinding-dinding terlukis gambar-gambar lucu

Coretan nakal dari tangan-tangan mungil

Lembayung siap mengantar senja

Kala tirai malam terbuka

Teringat kembali saat mata akan terlelap

Dongeng raksasa dalam hikayat

Terngiang mengantarkan tidurku

Oleh kalimat bijaknya ayahku

 

Terlihat dua insan dalam lembar berikutnya

Ibu dan ayah

Tersenyum manis menebar kehangatan di dinginnya malam

Kudapati cinta sejati

Oleh dua insan yang terjalin ikatan suci

Sumber kebahagiaan dunia

Kala pilu meringkuk

Keriput kini menjadi saksi

Mengaliran kasih sayang yang deras

Bungkuk bahu tak melemahkannya

Selalu menguatkanku kala nestapa bergelut

Adakah yang lebih bahagia?

Melihat surga dunia dalam rumah

 

Jarum jam berdetak

Membangunkan memori yang sempat pergi

Ke beberapa tahun silam

Kini semua hanya fatamorgana

Imajinasi telah berfantasi dalam ruang dan waktu

Waktu telah merenggut tiap sandiwara

Menyisakan benang kehidupan yang tak lagi terulang

Takdir datang membawa berita

Kenyataan pahit yang kini melanda

Saat cinta sejati sudah mendebu

Abadi dalam goresan kenangan

Ayah

Apa kabarmu?

Ku tak dapat menyapamu dalam suara

Ku tak dapat menyentuhmu dalam pelukan

Ku tak dapat menatapmu dalam pandangan

Hanya untaian doa yang kulangitkan

Ku harap kau bahagia di surga-Nya

Cinta yang telah kau tanam

Kini tumbuh dan bermekaran

Menuai kasih sayang yang tak henti melalui doa

Sebuah kata yang menakjubkan

Membuka pintu langit menuju dimensi berbeda

 

Waktu tak pernah berhenti

Mengais rindu yang terlantar

Kenangan takkan habis termakan waktu

Aku hanya ingin

Menari dalam pelukan

Mengecup kening yang berlukiskan lelah

Menebar benih tawa dalam canda

Bercengkerama dan menuang secangkir cerita

Menghabiskan masa tua bersama

Namun, apalah daya

Kau pergi meninggalkan sejuta kenangan

Bisikkan rindu riuh berlagu

Air mata berderai membasahi malam-malamku

 

Ibu,

Aku di sini

Kau tak sendiri

Kita akan menulis cerita dalam lembar baru

Bersama goresan kenangan yang tersusun rapi

Setiap lembarnya akan selalu menjadi kenangan

Hingga kita mendebu

Comments