Sepotong cokelat di atas kertas putih. Perlahan habis gigitan kecil
berbekas. Memanggil endorfin tatkala diam. Meramaikan euforia bahagia mengusir
kesedihan. Masih kosong, sejenak berpikir menuang kalimat Terima Kasih. Melalui
guratan tinta menari-menari padamu mama.
Dua puluh tiga tahun lalu. Keheningan pecah oleh tangisan manja.
Isyarat terima kasih pertama untuk mama. Atas sakit menghujam jantung. Begitu
dahsyat tiada tertanggung. Pertaruhkan nyawa demi sang buah hati. Detik-detik
antara hidup dan mati. Bayi mungil suci telah lahir. Memulai petualangan dunia.
Disambut haru biru air mata, syahidlah perjuangan
Bukan
hanya medan perang. Perempuan hebat fitrahnyalah menakjubkan.
Detik tak dapat diatur, tak terkendali, pasti berlalu. Dewasa kini
bayi bukan lagi, dewasaku menuamu pasti. Mentari hanya satu. Sinar benderang
memayungi bumi. Cahyamu mama melebihi mentari. Manerangi ruang kosong tiap
sudut hati. Milyaran taburan bintang
menghiasi
gelap hamparan malam. Cinta kasihmu mama melebihi bintang. Menghiasi hampa di
ramainya kehidupan.
Tetesan keringat jatuh membasahi. Ladang pahala meruah tabunganmu
nanti. Banting tulang menafikkan penat. Senyum mendobrak menyembunyikan lelah.
Nakalku bergolong-golong. Terlampau sering kecewamu. Tak khayal air matamu
bersimbah. Tak terbendung karena kuberulah. Beribu maaf terurai kata. Berjuta
bakti lepas terbuka. Takkan mampu budi terbalas. Bintang Mahaputera cinta
istimewa.
Mamaku sayang,
di atas sajadah ku bersimpuh. Ku tengadahkan uluran kasih sayang
lewat
doa berhambur di angkasa. Untukmu mama pelita harapan. Ridamulah rida Tuhan.
Kaulah mama sekaligus bapak. Sendiri kini kau rasa. Dua tahun sudah bapak
berpulang, dalam sendirimu kokoh berdiri. Tetap melangkah semangat pasti.
Ingatlah Tuhan selalu ada, menemani langkah kita. Terima kasih mama. Impianmu
begitu sederhana. Bahagia melihatku bahagia. Kan kulukis bahagiamu, dalam jiwa
yang terpatri oleh kasih dan sayangmu.
Comments
Post a Comment