Kala mentari tertutupi awan, ingin bersinar namun terhalang. Hingga senja
memanggil malam, gelap, sunyi tanpa ada seorang pun mampu melihat sedikit titik
terang cahaya. Hampa dalam kesendirian, menyepi tanpa tahu kemana arah kan
membawanya pergi. Hanya duduk, termangu dalam buaian mimpi. Menjelajahi dunia
tanpa tapi, berani dan berpetualang dalam imajinasi. Tak sadarkah, kau sudah
tertidur pulas, bangunlah, hadapi kenyataan yang siap bertamu. Sudikah diri
membuka pintu, menghadapi dunia yang kejam tanpa belas kasihan. Diam dan diam,
menyimpan amarah dan emosi yang mebara dalam kehampaan, ingin berkata tapi tak
bisa, ada sudut api yang perlahan merambat membakar kesenangan yang mungkin
masih tersisa. Padamkan dengan apa? Bagaimana?
Tuhan, adakah di sana Engkau mendengar, isak tangis yang memakan
kebahagiaan. Ingin damai, bahagia, dan bersama dalam ketenangan. Tuntunlah,
karena tak ada yang menuntun selain-Mu. Bungkam, diam dan menahan. Sampai
kapan? Tolong, tolong Tuhan...
Comments
Post a Comment